Selasa, 21 Juni 2011

Makalah Pengaruh Gaya Belajar Dengan Prestasi Belajar


KATA PENGANTAR


 
Alhamdulillah segala puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita kesehatan dan rahmatnya. Sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik walaupun mungkin ada kekurangan kita mohon maaf sebesar-besarnya.

Makalah ini kita buat dengan tema " Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi Siswa". Tema ini kita pilih karena sangat menarik untuk disimak dan dihayati para pembaca agar dapat memberikan pengetahuan bagi kita semua khususnya bagi mereka yang akan menjadi seorang pendidik.

Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua agar bisa membuka pikiran kita untuk lebih berfikir cerdas dalam menyikapi krisis global sekarang ini. kita menyadari bahwa banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini karena kurangnya pengetahuan dan wawasan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. Dan terimakasih atas perhatiannya.


 


 

 

Terimakasih

 

 
Semarang, 30 April 2011

 


 

DAFTAR ISI


 

Kata Pengantar    i

Daftar Isi    ii

Bab I Pendahuluan    1

  1. Latar Belakang Masalah    1
  2. Permasalahan    2
Bab II Pembahasan    3

  1. Gaya Belajar    3
  2. Gaya Belajar Anda Visual, Auditori, atau Kinestetik ?     6
  3. Pengaruh Gaya Belajar Dengan Prestasi Belajar    3
Bab III Penutup    3

Daftar Pustaka


 


 


 


 


 


 


 


BAB I
PENDAHULUAN

 
  1. Latar Belakang Masalah
Gaya belajar merupakan suatu kombinasi dari bagaimana ia menyerap, kemudian mengatur serta mengolah informasi. gaya belajar bukan hanya berupa aspek ketika menghadapi informasi, melihat, mendengar, menulis dan berkata tetapi juga aspek pemrosesan informasi sekunsial, analitik, global atau otak kiri otak kanan, aspek lain adalah ketika merespon sesuatu atas lingkungan belajar (diserap secara abstrak dan konkret).

Terdapat tiga tipe gaya belajar yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu visual (cenderung belajar melalui apa yang mereka lihat), auditorial (belajar melalui apa yang mereka dengar) dan kinestetik (belajar melalui gerak dan sentuhan). Prestasi belajar masih tetap menjadi indikator untuk menilai tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar.

Prestasi belajar yang baik dapat mencerminkan gaya belajar yang baik karena dengan mengetahui dan memahami gaya belajar yang terbaik bagi dirinya akan membantu siswa dalam belajar sehingga prestasi yang dihasilkan akan maksimal.

Gaya belajar (Learning Styles) dianggap memiliki peranan penting dalam proses kegiatan belajar mengajar. Siswa yang kerap dipaksa belajar dengan cara-cara yang kurang cocok dan berkenan bagi mereka tidak menutup kemungkinan akan menghambat proses belajarnya terutama dalam hal berkonsentrasi saat menyerap informasi yang diberikan. Pada akhirnya hal tersebut juga akan berpengaruh pada hasil belajar yang belum maksimal sebagaimana yang diharapkan.
    Oleh karena itu penulis mempunyai inisiatif untuk menyusun makalah tentang Pengaruh Gaya Belajar dan Prestasi Siswa.


 


 

1.2    Permasalahan

    Banyak makalah yang membahas hanya tentang macam-macam gaya belajar. Akan tetapi dalam makalah ini penulis mencoba mengangkat masalah " Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi Siswa".
Dalam makalah ini penulis akan membahas pertanyaan di bawah ini :

  1. Apa arti sebenarnya gaya belajar?
  2. Bagaimana mengenali gaya belajar siswa?
  3. Dan apa pengaruhnya terhadap prestasi siswa?

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 
2.1    Gaya Belajar

Gaya belajar didefinisikan sebagai cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses, dan menampung informasi yang baru dan sulit, dikutip dari Barbara Pranshnig (2007) dalam bukunya berjudul "The Power of Learning Styles".  Eric Jensen (2010) dalam bukunya "Super Teaching" mendefinisikan gaya belajar adalah satu cara yang disukai untuk memikirkan, mengolah, dan memahami informasi. Akar krisis pendidikan karena persoalan pembelajaran yang kurang efektif. Salah satu unsur penting di dalamnya adalah gaya mengajar guru yang tidak cocok dengan gaya belajar peserta didik.

Thomas L.Maddem (2002) dalam bukunya "Fire Up Your Learning" mengatakan bahwa manusia pada umumnya menggunakan antara lima hingga sepuluh persen kapasitas otaknya. Jika kita mampu membuka separuh saja dari seluruh kapasitas otak, kita tidak akan menemukan lagi hambatan berbahasa dan kita tidak perlu menggunakan komputer untuk menyelesaikan soal matematika atau tugas ilmiah lainnya karena otak kita bekerja lebih cepat dari komputer.

Salah satu cara membuka potensi luar biasa yang telah terkunci rapat dalam otak adalah dengan cara memasukkan informasi ke dalam otak melalui gaya belajar yang sesuai dengan gaya mengajar.

Di bagian lain, Madden membagi lima gaya belajar melalui; (1) indera penglihatan atau visual; membaca, melihat, mengamati, visualisasi, imajinasi; (2) indera pendengaran atau auditori; mendengarkan, berbicara, berdiskusi; (3) indra peraba atau kinesterik; mengalami, mengerjakan, merasa, dan intuisi; (4) indra penciuman (olfaktori); dan (5) indra pencecap (gustatori).

Pendapat lain, Ken & Rita Dunn dari Universitas St. John di Jamaica New York dan para pakar Pemrograman Neuro-Linguistik seperti Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder mengidentifikasi tiga gaya belajar, yakni; (1) VISUAL, yakni belajar melalui melihat sesuatu; (2) AUDITORI, yakni belajar melalui mendengar sesuatu, dan (3) KINESTETIK, yakni belajar melalui aktivitas fisik dan keterlibatan langsung", dikutip dari Rose dan Nicholl (2006) dalam bukunya "Accelerated Learning for Yhe 21 st Century".

Kebanyakan orang menunjukkan kelebihsukaan atau kecendrungan pada satu gaya belajar tertentu dibanding dua gaya lainnya. Berdasarkan hasil riset kecendrungan tersebut; 29% visual, 34% auditori, dan 37% kinestetik.  Informasi tambahan menyatakan bahwa saat mencapai usia dewasa kecendrungan gaya belajar adalah daya visual.

Disamping itu, penelitian terhadap model gaya belajar dipengaruhi oleh fungsi dasar belahan otak, yakni otak belahan kiri dan otak belahan kanan. Dibuktikan tipe orang yang memperoses informasi dengan menggunakan otak kiri lebih menyukai lingkungan belajar yang sunyi, pencahayaan yang terang, dan dirancang secara formal, mereka tidak memerlukan makanan camilan, bisa belajar dengan kondisi terbaik saat sendiri atau dengan kehadiran figus yang berwenang.

Sebaliknya, orang yang memperoleh informasi dengan mengunakan otak kanan lebih menyukai pengalihan kebisingan atau musik, pencahayaan redup, rancangan informal, makanan camilan, mobilitas dan interaksi dengan orang lain di tempat kerja, selama belajar atau sedang berkonsentrasi.

Penelitian mengungkapkan adanya perbedaan gaya belajar diantara murid. Setiap individu lebih suka belajar dengan cara yang berbeda serta kemampuan menyerap informasi meningkat secara signifikan ketika orang dapat berpikir, bekerja dan berkonsentrasi dalam kondisi yang disenanginya.

Penelitian selama 25 tahun terakhir membuktikan bahwa manusia mampu mempelajari materi apa pun dengan berhasil apabila metode pembelajaran yang digunakan sesuai dengan pembelajaran individu. Artinya, apabila keragaman manusia dipertimbangkan dan diperhatikan dalam proses pembelajaran, hasilnya selalu positif; pelajar merasa senang, meraih sesuatu tanpa stres, mengalami peningkatan motivasi, dan selalu bisa mengendalikan proses belajar.

Jadi kunci menuju keberhasilan dalam belajar adalah mengetahui gaya belajar yang unik dari setiap orang, menerima kekuatan dan kelemahan diri sendiri dan sebanyak mungkin menyesuaikan preferensi pribadi dalam setiap situasi pembelajaran.

Apabila siswa tidak bisa belajar dengan cara guru mengajar, maka guru harus belajar mengajar mereka dengan cara murid bisa belajar karena semua gaya belajar itu bagus.

Sepuluh langkah untuk mengimplementasikan gaya belajar berbasis sekolah: (1) pelatihan guru mengenai gaya belajar dan manajemen kelas termasuk profil Learning Style Analysis (LSA) para guru; (2) melakukan penilaian terhadap murid dengan menggunakan instrumen LSA yang menghasilkan profil murid; (3) Pelatihan guru gaya belajar dan pengajaran yang berpusat pada murid; (4) Guru yang telah dilatih mengenai gaya belajar  melakukan observasi; (5) Berbagi hasil bersama murid dan orang tua; interpretasi profil LSA; (6) merangcang ulang ruang kelas berdasarkan preferensi dan masukan dari murid dan didukung oleh semua stakeholder sekolah untuk mencapai hasil yang diharapkan;(7) menggunakan peralatan gaya belajar yang pada awalnya dibuat guru; (8) mengadaptasi gaya belajar dalam pembelajaran; (9) Tahap evaluasi; dan (10) Ditemukan bahwa gaya mengajar setiap orang sama dengan gaya belajarnya (Barbara Prashnig, 2007).


 

2.2    Gaya Belajar Anda Visual, Auditori, atau Kinestetik ?


1. Visual (belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat.
Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata / penglihatan ( visual ), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Ciri-ciri gaya belajar visual :

  1. Bicara agak cepat
  2. Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi
  3. Tidak mudah terganggu oleh keributan
  4. Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar
  5. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  6. Pembaca cepat dan tekun
  7. Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata
  8. Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato
  9. Lebih suka musik dari pada seni 
  10. Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya

     
Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

1. Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

2. Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

3. Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

4. Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

5. Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.


2. Auditori (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara, berbicara sedang2 saja. Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Ciri-ciri gaya belajar auditori :

  1. Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri
  2. Penampilan rapi
  3. Mudah terganggu oleh keributan
  4. Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat
  5. Senang membaca dengan keras dan mendengarkan
  6. Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca
  7. Biasanya ia pembicara yang fasih
  8. Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya
  9. Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik
  10. Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual
  11. Berbicara dalam irama yang terpola
  12. Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

1. Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.
2. Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

3. Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

4. Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

5. Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

 

3. Kinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan.


 


 

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

  1. Berbicara perlahan
  2. Penampilan rapi
  3. Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan
  4. Belajar melalui memanipulasi dan praktek
  5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat
  6. Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca
  7. Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita
  8. Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca
  9. Menyukai permainan yang menyibukkan
  10. Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu
  11. Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi

 

Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:
1. Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.
2. Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).
3. Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

4. Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

5. Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.


 

2.3    Pengaruh Gaya Belajar Dengan Prestasi Belajar

Prestasi belajar yang baik pasti ditentukan oleh bagaimana proses belajar dia untuk menuju hasil prestasi yang baik tadi. Proses atau gaya belajar pasti berbeda-beda dan masing-masing gaya belajar memiliki nilai positif dan negatif begitu juga dengan dampaknya kepada orang tersebut dan di sekelilingnya. Memang betul ada pola belajar yang tidak baik dan karena itu menghasilkan prestasi belajar yang buruk tetapi kalau pola belajar baik sudah dijamin mendapat hasil yang memuaskan. Mutu pendidikan yang pun juga mempengaruhi kelangsungan pola belajar seorang murid begitu juga dengan lingkungan murid tersebut. Tetapi yang paling mempengaruhi pola belajar terhadap prestasi belajar adalah murid itu sendiri. Jika dia punya motivasi yang tinggi untuk mengembangkan pola belajar maka pola belajar tersebut akan membaik dan hasil prestasinya pun juga akan membaik. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

Rahasia keberhasilan pembelajaran terletak pada pengenalan seseorang terhadap dirinya sendiri, kesesuaian gaya mengajar dan gaya belajar, potensinya, dan konsekwensi yang ditimbulkannya. Pengalaman di Swedia dan Selandia Baru, sekolah yang telah menerapkan gaya belajar menunjukkan perubahan, antara lain; disiplin membaik, prestasi akademik meningkat, kerjasama staf juga lebih baik, komunikasi lebih lancar, minat orang tua dalam pembelajaran meningkat. Kenyataannya, hampir semua murid yang berprestasi rendah adalah murid yang gaya belajarnya tidak cocok dengan gaya mengajar guru di sekolah.

Dalam buku Quantum Learning dipaparkan 3 modalitas belajar seseorang yaitu : "modalitas visual, auditori atau kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan menggunakan ketiga modalitas ini pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya".


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB III
PENUTUP

 

3.1    Kesimpulan

Marilah kita sebagai mahasiswa yang nantinya akan menjadi orang tua dan juga ada yang akan menjadi seorang pendidik agar selalu memperhatikan perkembangan belajar anak atau siswa kita. Karena mereka butuh bimbingan kita untuk diarahkan ke jalan yang menuju masa depan yang lebih baik.

Gaya belajar anak sangat berpengaruh pada hasil belajar mereka dan mereka akan merasakannya kelak ketika dewasa nanti manfaat dari bimbingan yang kita berikan kepada mereka.

Kesuksesan guru atau orang tua dalam mendidik adalah tatkala ia tahu benar gaya belajar anak, lalu menerapkan pola pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar tersebut. Tidak sedikit guru atau orang tua 'memaksakan' memberikan pola pembelajaran. Mereka menganggap setiap anak sama. Akhirnya gaya mengajar anak harus sesuai dengan gaya belajar guru atau orangtua. Padahal, jika kita sadari hal inilah yang menjadi salah satu penyebab kegagalan kita dalam mendidik.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

DAFTAR PUSTAKA

 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

0 komentar:

Poskan Komentar